Rabu, 22 April 2009
Selasa, 21 April 2009
Mei, Disain Dasar MRT Ditandatangani
BERITAJAKARTA.COM — 20-04-2009 18:38
Perkembangan rencana pembangunan mass rapid transit (MRT) di DKI Jakarta terus mengalami kemajuan. Betapa tidak, setelah berhasil meneruskan dana pinjaman tahap pertama/loan agreement I (LA 1) dari Japan International Cooperation Agency (JICA) dalam bentuk hibah, pemerintah pusat juga telah mendatangani dana pinjaman tahap kedua/loan agreement II (LA 2) di Tokyo, Jepang, pada tanggal 31 Maret 2009. Tak hanya itu, untuk mempercepat disain konstruksi, pada bulan Mei mendatang basic engginering design (BED)/disain dasar pembangunan MRT akan segera ditandatangani.
"Alhamdulillah proyek ini sudah bisa dimulai dengan akan adanya penandatanganan kontrak BED pada bulan Mei mendatang," ujar Sarwo Handayani, Asisten Pembangunan dan Lingkungan Hidup Sekdaprov DKI Jakarta, usai melakukan pertemuan rutin dengan pihak-pihak terkait di ruang rapat Barito, Departemen Keuangan RI, Jalan Lapangan Banteng, Sawahbesar, Jakarta Pusat, Senin (20/4).
Sarwo Handayani menuturkan, sejauh ini Pemprov DKI Jakarta terus melakukan komunikasi dan koordinasi dengan seluruh pihak terkait rencana pembangunan MRT ini. Misalnya, Departemen Perhubungan RT dan juga Departemen Keuangan RI. Sehingga, perkembanganya dapat di-update. "Ke depan diperlukan koordinasi yang lebih aktif antar pihak-pihak terkait dengan menyiapkan studi-studi dan bahan-bahan yang diperlukan. Tak hanya itu, strategi komunikasi juga akan lebih intens," katanya.
Pertemuan tersebut, lanjut Sarwo Handayani, akan dilakukan dalam interval empat bulan sekali. Pertemuan teknis antar pihak-pihak terkait ini akan dimulai pada Mei mendatang. "Semoga dengan adanya pertemuan rutin yang intensif, kita dapat berkoordinasi dengan baik," tandas Yani sapaan akrab Sarwo.
Yani menambahkan, Pemprov DKI Jakarta juga akan terus memantau perkembanganya sehingga penyelesaian pembangunan MRT bisa sesuai target yakni beroperasi pada 2016. "Jika bisa lebih cepat tentu akan lebih baik," pungkasnya.
Sebelumnya, Direktur Fungsi Korporasi PT MRT Jakarta, Eddi Santosa, mengatakan, untuk mencapai target tersebut, PT MRT Jakarta akan melakukan terobosan mempercepat operasional MRT melalui akselerasi basic design dan konstruksi. Rencana 90 bulan untuk menyelesaikan MRT dipersingkat sembilan bulan yaitu menjadi 81 bulan. Estimasi awal MRT mulai beroperasi Oktober 2016 menjadi berubah diprediksikan menjadi Januari 2016.
Eddi menerangkan ada empat kegiatan dalam proyek MRT yaitu disain teknis dasar (basic engginering design), proses tender konstruksi, periode pengerjaan konstruksi dan uji coba MRT. Awalnya, waktu yang diberikan disain teknis dasar yaitu 14 bulan dan proses tender konstruksi 12 bulan. Namun dengan percepatan itu, rencana akselerasi kedua kegiatan itu digabungkan menjadi satu yang harus diselesaikan dalam jangka waktu 23 bulan.
“Awalnya kan total 26 bulan untuk kedua kegiatan itu. Sekarang dikurangi tiga bulan,” katanya. Sedangkan untuk periode pengerjaan konstruksi dikurangi tiga bulan, dari estimasi awal 58 bulan menjadi 55 bulan. Begitu juga dengan uji coba MRT pelaksanaannya dikurangi tiga bulan dari estimasi awal 6 bulan menjadi 3 bulan.
Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, M Tauchid yang turut hadir dalam pertemuan tersebut, mengatakan, pihaknya telah mempersiapkan antisipasi terkait dengan pengerjaan konstruksi proyek ini. Dan sesuai dengan pengerjaan Civil Works (Elevated & Depot) akan dimulai pada 2011-2014 dan Civil Works (Underground) pada 2011-2015. "Otomatis secara umum kita telah mempersiapkan antisipasi terhadap keberadaan lalu-lintas dan jalanan yang dilalui proyek ini mulai dari kawasan Fatmawti sampai kawasan Dukuhatas," jelas Tauchid.
Menurut rencana gambaran pola operasi MRT yang dikeluarkan Dephub, menyebutkan, jalur melintasi Lebakbulus, Blok M, Setiabudi, Dukuhatas dengan panjang 14,3 kilometer. Kecepatan rata-rata yang ditempuh 26 km/jam dengan waktu tempuh 32 menit. Sedangkan kapasitas angkutnya dapat mengangkut 23.000 penumpang atau 400.000 penumpang/hari dengan pangsa pasar 1,6 persen total perjalanan di DKI Jakarta.
Untuk stasiun pemberhentian terdiri dari dua kategori yakni stasiun layang (Lebakbulus-Fatmawati-Cipete Raya-Haji Nawi-Blok A-Blok M-Sisingamangaraja-Senayan), serta stasiun bawah tanah (Istora-Bendunganhilir-Setiabudi-Dukuhatas) dan Depo di atas Terminal Lebakbulus.
Perkembangan rencana pembangunan mass rapid transit (MRT) di DKI Jakarta terus mengalami kemajuan. Betapa tidak, setelah berhasil meneruskan dana pinjaman tahap pertama/loan agreement I (LA 1) dari Japan International Cooperation Agency (JICA) dalam bentuk hibah, pemerintah pusat juga telah mendatangani dana pinjaman tahap kedua/loan agreement II (LA 2) di Tokyo, Jepang, pada tanggal 31 Maret 2009. Tak hanya itu, untuk mempercepat disain konstruksi, pada bulan Mei mendatang basic engginering design (BED)/disain dasar pembangunan MRT akan segera ditandatangani.
"Alhamdulillah proyek ini sudah bisa dimulai dengan akan adanya penandatanganan kontrak BED pada bulan Mei mendatang," ujar Sarwo Handayani, Asisten Pembangunan dan Lingkungan Hidup Sekdaprov DKI Jakarta, usai melakukan pertemuan rutin dengan pihak-pihak terkait di ruang rapat Barito, Departemen Keuangan RI, Jalan Lapangan Banteng, Sawahbesar, Jakarta Pusat, Senin (20/4).
Sarwo Handayani menuturkan, sejauh ini Pemprov DKI Jakarta terus melakukan komunikasi dan koordinasi dengan seluruh pihak terkait rencana pembangunan MRT ini. Misalnya, Departemen Perhubungan RT dan juga Departemen Keuangan RI. Sehingga, perkembanganya dapat di-update. "Ke depan diperlukan koordinasi yang lebih aktif antar pihak-pihak terkait dengan menyiapkan studi-studi dan bahan-bahan yang diperlukan. Tak hanya itu, strategi komunikasi juga akan lebih intens," katanya.
Pertemuan tersebut, lanjut Sarwo Handayani, akan dilakukan dalam interval empat bulan sekali. Pertemuan teknis antar pihak-pihak terkait ini akan dimulai pada Mei mendatang. "Semoga dengan adanya pertemuan rutin yang intensif, kita dapat berkoordinasi dengan baik," tandas Yani sapaan akrab Sarwo.
Yani menambahkan, Pemprov DKI Jakarta juga akan terus memantau perkembanganya sehingga penyelesaian pembangunan MRT bisa sesuai target yakni beroperasi pada 2016. "Jika bisa lebih cepat tentu akan lebih baik," pungkasnya.
Sebelumnya, Direktur Fungsi Korporasi PT MRT Jakarta, Eddi Santosa, mengatakan, untuk mencapai target tersebut, PT MRT Jakarta akan melakukan terobosan mempercepat operasional MRT melalui akselerasi basic design dan konstruksi. Rencana 90 bulan untuk menyelesaikan MRT dipersingkat sembilan bulan yaitu menjadi 81 bulan. Estimasi awal MRT mulai beroperasi Oktober 2016 menjadi berubah diprediksikan menjadi Januari 2016.
Eddi menerangkan ada empat kegiatan dalam proyek MRT yaitu disain teknis dasar (basic engginering design), proses tender konstruksi, periode pengerjaan konstruksi dan uji coba MRT. Awalnya, waktu yang diberikan disain teknis dasar yaitu 14 bulan dan proses tender konstruksi 12 bulan. Namun dengan percepatan itu, rencana akselerasi kedua kegiatan itu digabungkan menjadi satu yang harus diselesaikan dalam jangka waktu 23 bulan.
“Awalnya kan total 26 bulan untuk kedua kegiatan itu. Sekarang dikurangi tiga bulan,” katanya. Sedangkan untuk periode pengerjaan konstruksi dikurangi tiga bulan, dari estimasi awal 58 bulan menjadi 55 bulan. Begitu juga dengan uji coba MRT pelaksanaannya dikurangi tiga bulan dari estimasi awal 6 bulan menjadi 3 bulan.
Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, M Tauchid yang turut hadir dalam pertemuan tersebut, mengatakan, pihaknya telah mempersiapkan antisipasi terkait dengan pengerjaan konstruksi proyek ini. Dan sesuai dengan pengerjaan Civil Works (Elevated & Depot) akan dimulai pada 2011-2014 dan Civil Works (Underground) pada 2011-2015. "Otomatis secara umum kita telah mempersiapkan antisipasi terhadap keberadaan lalu-lintas dan jalanan yang dilalui proyek ini mulai dari kawasan Fatmawti sampai kawasan Dukuhatas," jelas Tauchid.
Menurut rencana gambaran pola operasi MRT yang dikeluarkan Dephub, menyebutkan, jalur melintasi Lebakbulus, Blok M, Setiabudi, Dukuhatas dengan panjang 14,3 kilometer. Kecepatan rata-rata yang ditempuh 26 km/jam dengan waktu tempuh 32 menit. Sedangkan kapasitas angkutnya dapat mengangkut 23.000 penumpang atau 400.000 penumpang/hari dengan pangsa pasar 1,6 persen total perjalanan di DKI Jakarta.
Untuk stasiun pemberhentian terdiri dari dua kategori yakni stasiun layang (Lebakbulus-Fatmawati-Cipete Raya-Haji Nawi-Blok A-Blok M-Sisingamangaraja-Senayan), serta stasiun bawah tanah (Istora-Bendunganhilir-Setiabudi-Dukuhatas) dan Depo di atas Terminal Lebakbulus.
Topping Off Trans Studio
Zona pertama dalam Trans Studio Theme Park adalah Studio Central. Di zona ini pengunjung dapat menyaksikan bioskop 4 dimensi dan foto bersama patung lilin artis-artis Trans TV dan Trans 7. Zona kedua adalah Lost City, yang merupakan zona petualangan, pengunjung bisa menemui suku pedalaman yang penuh intrik dan misteri. Zona ketiga adalah Magic Corner yang penuh sensasi. Disini pengunjung bisa memasuki wahana Dunia Lain yang mistis, serta menguji adrenalin di wahana Dungeon Drop. Zona keempat adalah Cartoon City, yang merupakan dunia khusus untuk anak-anak.
Kompleks terpadu Trans Studio Resort Makassar yang sementara tahap pembangunan, nantinya akan terdiri atas, Trans Studio Theme Park, Trans Studio Walk, Trans Studio Hotel, Menara Bank Mega, serta Marina. Dengan demikian, PT. Trans Stuido Kalla Makassar akan turut berpartisipasi mengurangi angka pengangguran di Sulsel, dengan menyerap tenaga-tenaga kerja lokal. Sumber: Majalah Makassar Terkini
Langganan:
Postingan (Atom)